A.
Definisi aging(Penuaan)
Penuaan (Inggris:Aging) adalah hasil
akumulasi dari perubahan organisme atau objek karena waktu. Penuaan pada
manusia berkaitan dengan proses multidimensional fisik, psikologis dan
perubahan sosial. Umur merupakan ukuran secara kronologis, dan ulang tahun
seseorang merupakan hal yang penting dalam masalah "penuaan".
Proses
penuaan adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan
jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi
normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki
kerusakan yang diderita.
Definisi aging menurut A4M
(American Academy of Anti-Aging Medicine) adalah kelemahan dan kegagalan
fisik-mental yang berhubungan dengan aging normal disebabkan oleh
disfungsi fisiologik, dalam banyak kasus dapat diubah dengan intervensi
kedokteran yang tepat.
Webster’s New World Dictionary mendefinisikan
aging sebagai proses menjadi tua atau menunjukkan tanda-tanda menjadi
tua. Kenyataannya aging dapat dibagi menjadi dua konsep yang berbeda,
yaitu : usia kronologis dan usia biologis. Pada saat merayakan hari ulang tahun
(merayakan usia kronologis), kadang benar bahwa penampilan sistem tubuh
seseorang, dari fungsi mental hingga penampilan seksual sampai kekuatan fisik,
lebih baik atau lebih buruk dari yang diperkirakan jika dibandingkan dengan
orang yang seusianya (ini adalah contoh usia biologis).
B.
Batasan-Batasan
Lanjut Usia
Batasan-batasan
lanjut usia menurut beberapa ahli atau beberapa institusi berbeda-beda, berikut
adalah batasan-batasan lanjut usia:
1. Menurut
WHO, lanjut usia meliputi :
a. Usia
pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45-59 tahun
b. Lanjut
usia (elderly) ialah kelompok usia antara 60-74 tahun
c. Lanjut
usia tua (old) ialah usia antara 75-90 tahun
d. Usia
sangat tua (very old) ialah usia diatas 90 tahun
2. Menurut
Setyonegoro (2006), pengelompokan lanjut usia sebagai berikut :
a. Usia
dewasa muda (elderly adulthood) ialah kelompok usia 18 atau 20-25 tahun
b. Usia
dewasa penuh (middle years) atau maturitas ialah kelompok usia 25-60 atau 65
tahun
c. Lanjut
usia (geriatric age) ialah kelompok usia > 65 atau 70 tahun, yang terbagi
menjadi: umur 70-75 tahun (young old), umur 75-80 tahun (old) dan > 80 tahun
(very old)
C. Mekanisme
pada aging
Proses penuaan ditandai penurunan energi
seluler yang menurunkan kemampuan sel untuk memperbaiki diri. Terjadi dua
fenomena, yaitu penurunan fisiologik (kehilangan fungsi tubuh dan sistem
organnya) dan peningkatan penyakit.
Aging adalah suatu
penyakit dengan karakteristik yang terbagi menjadi 3 fase yaitu :
1.
Fase subklinik (usia 25-35 tahun)
Kebanyakan hormon mulai menurun :
testosteron, growth hormone (GH), dan estrogen. Pembentukan radikal
bebas, yang dapat merusak sel dan DNA mulai mempengaruhi tubuh, seperti diet
yang buruk, stress, polusi, paparan berlebihan radiasi ultraviolet dari
matahari. Kerusakan ini biasanya tidak tampak dari luar. Individu akan tampak
dan merasa “normal” tanpa tanda dan gejala dari aging atau penyakit.
Bahkan, pada umumnya rentang usia ini dianggap usia muda dan normal.
2.
Fase transisi (usia 35-45 tahun)
Selama tahap ini kadar hormon menurun
sampai 25 persen. Kehilangan massa otot yang mengakibatkan kehilangan kekuatan
dan energi serta komposisi lemak tubuh yang meninggi. Keadaan ini menyebabkan
resistensi insulin, meningkatnya resiko penyakit jantung, pembuluh darah, dan
obesitas. Pada tahap ini mulai muncul gejala klinis, seperti penurunan
ketajaman penglihatan- pendengaran, rambut putih mulai tumbuh, elastisitan dan
pigmentasi kulit menurun, dorongan seksual dan bangkitan seksual menurun.
Tergantung dari gaya hidup, radikal bebas merusak sel dengan cepat sehingga
individu mulai merasa dan tampak tua. Radikal bebas mulai mempengaruhi ekspresi
gen, yang menjadi penyebab dari banyak penyakit aging, termasuk kanker, arthritis,
kehilangan daya ingat, penyakit arteri koronaria dan diabetes.
3.
Fase Klinik (usia 45 tahun keatas)
Orang mengalami penurunan hormon yang
berlanjut, termasuk DHEA (dehydroepiandrosterone), melatonin, GH,
testosteron, estrogen, dan hormon tiroid. Terdapat juga kehilangan kemampuan
penyerapan nutrisi, vitamin, dan mineral sehingga terjadi penurunan
densitas tulang, kehilangan massa otot sekitar 1 kilogram setiap 3
tahun, peningkatan lemak tubuh dan berat badan. Di antara usia 40 tahun dan 70
tahun, seorang pria kemungkinan dapat kehilangan 20 pon ototnya, yang mengakibatkan
ketidakmampuan untuk membakar 800-1.000 kalori perhari. Penyakit kronis
menjadi sangat jelas terlihat, akibat sistem organ yang mengalami kegagalan.
Ketidakmampuan menjadi faktor utama untuk menikmati “tahun emas” dan seringkali
adanya ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sederhana dalam kehidupan
sehari-harinya. Prevalensi penyakit kronis akan meningkat secara dramatic sebagai
akibat peningkatan usia.
D. Teori
Penyebab Proses Penuaan
Sebenarnya banyak teori yang menjelaskan
mengapa manusia mengalami proses penuaan. Tetapi, pada dasarnya semua teori itu
dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu teori wear and tear dan teori
program.
Ada 4 teori pokok dari aging,
yaitu:
1.
Teori “wear and tear”
Teori
“Wear and Tear” disebut juga teori “Pakai dan Lepas”. Teori ini memberi kesan
bahwa hilangnya sel secara normal akibat dari perubahan dalam kehidupan
sehari-hari dan penumpukan rangsang subletal dalam sel yang berakhir dengan
kegagalan sistem yang cukup besar sehingga keseluruhan organisme akan
mati.Teori ini memberikan penjelasan yang baik mengapa kegagalan jantung dan
system saraf sentral merupakan penyebab yang sering pada kematian; sel-sel yang
mempunyai fungsi penting pada jaringan ini tidak mempunyai kemampuaan
regenerasi.Teori ini sama sekali tergantung pada pandangan statistik penuaan.
Pada teori ini kita mempunyai harapan hidup yang sama bagi setiap individu,
namun perubahan panjang umur setiap individu diakibatkan oleh perubahan pola
hidup dari individu itu sendiri
Berbagai
mekanisme seluler dan subseluler yang diperkirakan sebagai penyebab kesalahan
penumpukan yang menyebabkan terjadinya penuaan sel adalah:
a. ikatan silang protein
b. ikatan silang DNA
c. mutasi dalam DNA yang membuat gen
yang penting tidak tersedia atau berubah fungsinya
d. kerusakan mitokondria
e. cacat lain dalam penggunaan oksigen
dan nutrisi
Tubuh dan selnya mengalami kerusakan
karena sering digunakan dan disalahgunakan (overuse and abuse). Organ
tubuh seperti hati, lambung, ginjal, kulit, dan yang lainnya, menurun karena
toksin di dalam makanan dan lingkungan, konsumsi berlebihan lemak, gula,
kafein, alcohol, dan nikotin, karena sinar ultraviolet, dan karena stress fisik
dan emosional. Tetapi kerusakan ini tidak terbatas pada organ melainkan juga terjadi
di tingkat sel.
2.
Teori neuroendokrin
Teori ini berdasarkan peranan berbagai
hormon bagi fungsi organ tubuh. Hormon dikeluarkan oleh beberapa organ yang
dikendalikan oleh hipotalamus, sebuah kelenjar yang terletak di otak.
Hipotalamus membentuk poros dengan hipofise dan organ tertentu yang kemudian
mengeluarkan hormonnya. Dengan bertambahnya usia tubuh memproduksi hormon dalam
jumlah kecil, yang akhirnya mengganggu berbagai sistem tubuh.
3.
Teori Kontrol Genetik
Teori ini fokus pada genetik memprogram
sandi sepanjang DNA, dimana kita dilahirkan dengan kode genetik yang unik, yang
memungkinkan fungsi fisik dan mental tertentu. Dan penurunan genetik tersebut
menentukan seberapa cepat kita menjadi tua dan berapa lama kita hidup.
Proses penuaan kelihatannya mempunyai
komponen genetik. Hal ini dapat dilihat dari pengamatan bahwa anggota keluarga
yang sama cenderung hidup pada umur yang sama dan umurnya mempunyai umur yang
rata-rata sama, tanpa mengikut sertakan meninggal akibat kecelakaan dan
penyakit. Mekanisme penuaan yang jelas secara genetik belumlah jelas, tetapi
penting jadi catatan bahwa lamanya hidup kelihatannya diturunkan melalui garis
wanita dan seluruh mitokondria mamalia berasal dari telur dan tidak ada satupun
dipindahkan melalui spermatozoa. Pengalaman kultur sel sugestif bahwa beberapa
gen yang mempengaruhi penuaan terdapat pada kromosom 1, tetapi bagaimana cara
mereka mempengaruhi penuaan masih belum jelas. Disamping itu terdapat juga
“eksperimen alami” yang baik dimana beberapa manusia dengan kondisi genetik
yang jarang (progerias) seperti
sindroma Werner menunjukkan penuaan yang premature dan meninggal akibat
penyakit usia lanjut seperti ateroma derajat berat pada usianya yang masih
belasan tahun atau permulaan remaja.Serupa dengan itu, penderita sindroma Down
pada umumnya proses penuaannya lebih cepat dibandingkan dengan populasi lain.
Disamping itu fibroblasnya mampu membelah dalam jumlah lebih sedikit di dalam
kultur dibandingkan dengan control yang umurnya sama. Tetapi ini masih sangat
jauh dari bukti akhir bahwa penuaan merupakan kondisi genetik; hal ini hanya
menunjukkan kepada kita bahwa beberapa bentuk penuaan dipengaruhi oleh
mekanisme genetik.
4.
Teori Radikal Bebas
Teori ini menjelaskan bahwa suatu
organisme menjadi tua karena terjadi akumulasi kerusakan oleh radikal bebas
dalam sel sepanjang waktu. Radikal bebas sendiri merupakan suatu molekul yang
memilkiki elektron yang tidak berpasangan. Radikal bebas memiliki sifat
reaktifitas tinggi, karena kecenderungan menarik elektron dan dapat mengubah
suatu molekul menjadi suatu radikal oleh karena hilangnya atau bertambahnya
satu elektron pada pada molekul lain. Radikal bebas akan merusak molekul yang
elektronnya ditarik oleh radikal bebas tersebut sehingga menyebabkan kerusakan
sel, gangguan fungsi sel, bahkan kematian sel. Molekul utama di dalam tubuh
yang dirusak oleh radikal bebas adalah DNA, lemak, dan protein. Dengan
bertambahnya usia maka akumulasi kerusakan sel akibat radikal bebas semakin
mengambil peranan, sehingga mengganggu metabolisme sel, juga merangsang mutasi
sel, yang akhirnya membawa pada kanker dan kematian. Selain itu radikal bebas
juga merusak kolagen dan elastin , suatu protein yang menjaga kulit tetap
lembab, halus, fleksibel, dan elastis. Jaringan tersebut akan menjadi rusak
akibat paparan radikal bebas, terutama pada daerah wajah, dimana mengakibatkan
lekukan kulit dan kerutan yang dalam akibat paparan yang lama oleh radikal
bebas.
Selain
teori-teori diatas, beberapa teori lain juga telah
dikemukakan untuk menjelaskan proses yang terjadi selama penuaan , antara lain
1.
Programmed
Aging theory (Cellular Aging)
Teori
ini menyatakan bahwa manifestasi perubahan senescence adalah hasil dari program
genetik yang berisi gen menua yang bertanggung jawab terhadap perubahan dan
kematian organisme (Miller, 1999).
2.
Cross link
theory
Teori
ini menyatakan bahwa lemak, protein, karbohidrat dan asam nukleat bereaksi
dengan zat-zat kimia atau radiasi untuk membentuk ikatan yang dapat menyebabkan
kekakuan dan ketidakstabilan sel-sel tubuh (Lueckenotte, 1996).
3.
Theories of
Random Deterioration
Teori
ini menyatakan bahwa proses menua terjadi karena adanya akumulasi dari
kerusakan sel yang terjadi akibat radikal bebas yang menyerang molekul sehingga
merusak membran sel (Miller, 1999).
4.
Immunologis
theory
Teori
ini menyatakan bahwa semakin tua umur seseorang maka kemampuan sistem imun
menurun baik secara kuantitatif maupun kualitatif sehingga kemampuan untuk
membedakan sel tubuh dan benda asing menurun, maka banyak terjadi penyakit-penyakit
autoimun (Miller, 1999). Pada lanjut usia terjadi gangguan kemampuan pengaturan
sel B dan sel T sehingga sel-sel normal atau sel yang sudah menua dianggap
sebagai benda asing (Lueckenotte, 1996).
5.
Teori Glikosilasi
Yang
menyatakan bahwa proses glikosilasi nonenzimatik yang menghasilkan pertautan
glukosa protein yang disebut sebagai advance glycation end product (AGEs) dapat
menyebabkan penumpukan protein dan makromolekul lain yang termodifikasi
sehingga terjadi disfungsi pada manusia yang menua. Protein glikasi menunjukkan
perubahan fungsional, meliputi menurunnya aktivitas enzim dan menurunnya dan
menurunnya degradasi protein normal. Manakala manusia menua, AGEs berakumulasi
di berbagai jaringan, termasuk kolagen, hemoglobin, lensa mata. Karena muatan
kolagennya tinggi, jaringan ikat menjadi kurang elastis dan kaku. Kondisi
tersebut dapat mempengaruhi elastisitas dinding pembuluh darah. AGEs diduga
juga berinteraksi dengan DNA dan karenanya mungkin mengganggu kemampuan sel
untuk memperbaiki perubahan pada DNA.
E.
Faktor yang mempercepat aging
Berbagai faktor yang dapat mempercepat
proses penuaan, yaitu :
1.
Faktor lingkungan
a.
Pencemaran linkungan yang berwujud
bahan-bahan polutan dan kimia sebagai hasil pembakaran pabrik, otomotif, dan
rumah tangga) akan mempercepat penuaan.
b.
Pencemaran lingkungan berwujud suara
bising. Dari berbagai penelitian ternyata suara bising akan mampu meningkatkan
kadar hormon prolaktin dan mampu menyebabkan apoptosis di berbagai
jaringan tubuh.
c.
Kondisi lingkungan hidup kumuh serta
kurangnya penyediaan air bersih akan meningkatkan pemakaian energi tubuh untuk
meningkatkan kekebalan.
d.
Pemakaian obat-obat/jamu yang tidak
terkontrol pemakaiannnya sehingga menyebabkan turunnya hormon tubuh secara
langsung atau tidak langsung melalui mekanisme umpan balik (hormonal
feedback mechanism).
e.
Sinar matahari secara langsung yang
dapat mempercepat penuaan kulit dengan hilangnya elastisitas dan rusaknya
kolagen kulit.
2.
Faktor diet/makanan. Jumlah nutrisi yang
cukup, jenis, dan kualitas makanan yang tidak menggunakan pengawet, pewarna,
perasa dari bahan kimia terlarang. Zat beracun dalam makanan dapat menimbulkan
kerusakan berbagai organ tubuh, antara lain organ hati.
3.
Faktor genetik
Genetik seseorang sangat ditentukan oleh
genetik orang tuanya. Tetapi faktor genetik ternyata dapat berubah karena
infeksi virus, radiasi, dan zat racun dalam makanan/minuman/kulit yang diserap
oleh tubuh.
4.
Faktor psikis
Faktor stres ini ternyata mampu memacu
proses apoptosis di berbagai organ/jaringan tubuh.
5.
Faktor organik
Secara umum, faktor organik adalah :
rendahnya kebugaran/fitness, pola makan kurang sehat, penurunan GH dan
IGF-I, penurunan testosteron, penurunan melatonin secara konstan setelah usia
30 tahun dan menyebabkan gangguan circandian clock (ritme harian) selanjutnya
kulit dan rambut akan berkurang pigmentasinya dan terjadi pula gangguan tidur,
peningkatan prolaktin yang sejalan dengan perubahan emosi dan stress, perubahan
Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH).
F. Perubahan Fisiologis
1.
Sel
a.
Lebih sedikit jumlahnya.
b.
Lebih besar ukurannya.
c.
Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan
berkurangnya cairan intraseluler.
d.
Menurunnya proporsi protein di otak,
otot, ginjal, darah, dan hati.
e.
Jumlah sel otak menurun.
f.
Terganggunya mekanisme perbaikan sel.
g.
Otak menjadi atrofis beratnya berkurang
5-10%.
2.
Sistem Persyarafan
a.
Cepatnya menurunkan hubungan persyarafan
b.
Lambatnya dalam merespon dan waktu untuk
berfikir
c.
Mengecilnya syaraf panca indra
d.
Berkurangnya penglihatan, hilangnya
pendengaran, mengecilnya syaraf pencium dan perasa lebih sensitive terhadap
perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin.
3.
Sistem
Pendengaran.
a.
Presbiakusis (gangguan dalam
pendengaran): Hilangnya kemampuan pendengaran pada telinga dalam, terutama
terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit
mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.
b.
Otosklerosis akibat atrofi membran
tympani .
c.
Terjadinya pengumpulan serumen dapat
mengeras karena meningkatnya keratin.
d.
Pendengaran bertambah menurun pada
lanjut usia yang mengalami ketegangan jiwa/stress
4.
Sistem
Penglihatan.
a.
Sfingter pupil timbul sklerosis dan
hilangnya respon terhadap sinar.
b.
Kornea lebih berbentuk sferis (bola).
c.
Kekeruhan pada lensa menyebabkan
katarak.
d.
Meningkatnya ambang pengamatan sinar,
daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat dan susah melihat dalam cahaya
gelap.
e.
Hilangnya daya akomodasi.
f.
Menurunnya lapangan pandang,berkurang
luas pandangannya.
g.
Menurunnya daya membedakan warna biru
atau hijau.
5.
Sistem
Respirasi
a. Otot
pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara inspirasi
berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal.
b. Penurunan
aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga potensial terjadi
penumpukan sekret.
c. Penurunan
aktivitas paru ( mengembang & mengempisnya ) sehingga jumlah udara
pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan, kalau pada pernafasan yang
tenang kira kira 500 ml.
d. Alveoli
semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan normal 50m²), Ù
menyebabkan terganggunya prose difusi.
e. Penurunan
oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu prose oksigenasi dari hemoglobin,
sehingga O2 tidak terangkut semua kejaringan.
f. CO2
pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga menurun yang
lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri.
g. Kemampuan
batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret & corpus alium dari saluran
nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi.
6.
Sistem Gastrointestinal.
a.
Kehilangan gigi akibat Periodontal
disease,kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk.
b.
Indera pengecap menurun,hilangnya
sensitivitas saraf pengecapm di lidah terhadap rasa manis, asin, asam, dan
pahit.
c.
Eosephagus melebar.
d.
Rasa lapar menurun, asam lambung
menurun.
e.
Peristaltik lemah dan biasanya timbul
konstipasi.
f.
Daya absorbsi melemah.
g.
Liver (hati) makin mengecil dan
menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah
7.
Sistem
Reproduksi.
a.
Menciutnya ovari dan uterus.
b.
Atrofi payudara.
c.
Pada laki-laki testis masih dapat
memproduksi spermatozoa meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur.
d.
Kehidupan seksual dapat diupayakan
sampai masa lanjut usia asal kondisi kesehatan baik.
e.
Selaput lendir vagina menurun.
8.
Sistem
Endokrin.
a.
Produksi semua hormon menurun.
b.
Fungsi paratiroid dan sekresinya tak
berubah
c.
Pituitary, pertumbuhan hormone ada
tetapi lebih rendah dan hanya ada di pembuluh darah dan berkurangnya produksi
dari ACTH, TSH, FSH, dan LH.
d.
Menurunnya aktivitas tyroid, menurunnya
BMR (Basal Metabolic Rate), dan menurunnya daya pertukaran zat.
e.
Menurunnya produksi aldosteron.
f.
Menurunya sekresi hormon kelamin
misalnya, progesteron, estrogen, dan testosteron.
g.
Sintesa protein menurun
h.
Lean bone mass turun
i.
Penurunan % lemak
j.
Penurunan GH (hormon pertumbuhan )
k.
Penurunan hormon sex.
l.
Pada laki-laki : penurunan libido
mengakibatkan penurunan frek aktivitas sex
m.
Pada perempuan : monopause --> atrofi
vagina
9.
Sistem Kulit (
Sistem Integumen )
a.
Kulit mengerut atau keriput akibat
kehilangan jaringan lemak.
b.
Permukaan kulit kasar dan bersisik
karena kehilangan proses keratinisasi, serta perubahan ukuran dan bentuk-bentuk
sel epidermis.
c.
Kulit kepala dan rambut menipis berwarna
kelabu.
d.
Rambut dalam hidung dan telinga menebal.
e.
Berkurangnya elastisitas akibat dari
menurunya cairan dan vaskularisasi.
f.
Pertumbuhan kuku lebih lambat.
g.
Kuku jari menjadi keras dan rapuh, pudar
dan kurang bercahaya.
h.
Kelenjar keringat berkurang jumlah dan
fungsinya.
10.
Sistem
kardiovaskuler
a.
Elastis dinding aorta menurun
b.
Perubahan miokara; atrofi menurun
c.
Lemak sub endoicard menurun ; fibrosis,
menebal, sclerosis
d.
Katup-katup jantung mudah fibrosis dan
klasifikasi (kaku)
e.
Peningkatan jaringan ikat pada Sa Node
f.
Penurunan denyut jantung maksimal pada
latihan
g.
Co menurun
h.
Penurunan jumlah sel pada pace maker
i.
Jaringan kolagen bertambah dan jaringan
elastis berkurang
j.
Pada otot jantung
k.
Penurunan elastis pada diding vena
l.
Respon baro reseptor menurun
11.
Sistem
pernapasan
a.
Gerakan pernapasan : dangkal, sesak
napas, otot lemah
b.
Distribusi gas : penumpukan udara dalam
alveolus
c.
Volume dan kapasitas paru menurun
d.
Gangguan transportasi gas
e.
Imobilisasi : efusi pleura,
pneumothorak, tumor paru
12.
Sistem
neurologis
a.
Struktur otak dilatasi ventricular
b.
Atrofi otak
c.
Berat otak < 6-10 % (umur <80 thn)
d.
Perubahan bentuk
e.
Dopamine
f.
Fungsi sensorimotor
g.
Lensa mata tipis
h.
Pupil mengecil
i.
Memori
j.
Kognitif turun
k.
Keterampilan turun
l.
Intelektual turun
m.
Kemampuan psikomotor menurun
Gejalanya
:
a.
Pola tidur ( lebih sering tebangun saat
tidur )
b.
Perubahan fungsi motorik )pembungkukan
postr fleksi kedepan terlambat)
c.
Gaya berjalan kaki diseret
d.
Arthitis dipanggul lutut spina
e.
Osteoporosis
f.
Propiosepsi
13.
Perubahan
Sistem Urinari
a. Ginjal, Mengecil dan nephron menjadi
atropi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50 %, penyaringan diglomerulo
menurun sampai 50 %, fungsi tubulus berkurang akibatnya kurangnya kemampuan
mengkonsentrasi urin, berat jenis urin menurun proteinuria ( biasanya + 1 ) ;
BUN meningkat sampai 21 mg % ; nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat.
b. Vesika urinaria / kandung kemih,
Otot otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan
frekwensi BAK meningkat, vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut
usia sehingga meningkatnya retensi urin.
c. Pembesaran prostat ± 75 % dimulai
oleh pria usia diatas 65 tahun.
d. Atropi vulva.
e. Vagina, Selaput menjadi kering,
elastisotas jaringan menurun juga permukaan menjadi halus, sekresi menjadi
berkurang, reaksi sifatnya lebih alkali terhadap perubahan warna.
f. Daya sexual, Frekwensi sexsual
intercouse cendrung menurun tapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati
berjalan terus.
g. Nevron
berkurang disertai perubahan fungsi tubuler ginjal
h. Kapasitas
kandung kemih berkurang
i.
Tegangan spingter berkurang
j.
Pada laki-laki : terjadi benigna
hipertropi prostate
k. Pada
perempuan : perubahan tegangan otot pelvis
14.
Perubahan
sistem musculoskeletal
a.
Otot-otot atrofi
b.
Fibrosis
c.
Massa tonus / kekuatan otot menurun
d.
Otot lebih menonjol dari ektremitas yang
kecil dan lemah
e.
Regeditas otot meningkat terutama
ektremitas dan leher
f.
Mikro arsitektur berubah
Jika
anda membutuhkan buku panduan membuat program aplikasi Tugas Akhir,
Skripsi dan Tesis Ilmu Komputer, anda dapat mengunjungi web http://www.bukuskripsi.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar